Home / Bandar Lampung / AJI-Bestari Helat Talkshow Kopi, Hutan dan Iklim

AJI-Bestari Helat Talkshow Kopi, Hutan dan Iklim

Bandarlampung, (Media-merdeka.com)-ISU lingkungan belum menjadi perhatian khusus di jurnalis dan media, terutama di Lampung.
Umumnya media hanya mengangkat pada aspek akibat saat sudah ada korban hingga menjadi kejadian luar biasa. Terkadang juga isu ini hanya muncul secara tiba-tiba saat ada peristiwa.
Ketua AJI Bandar Lampung Hendry Sihaloho menilai sangat jarang ditemukan media merancang liputan isu lingkungan dengan baik untuk menyajikan berita yang lebih komprehensif. Misalnya mengangkat akar kerusakan taman nasional dan tawaran solusi sehingga menjadi wacana untuk membangun diskusi bersama antara pemerintah dengan para pemangku kepentingan.
Untuk itulah diperlukan pemahaman yang baik dan membangun perspektif yang baik dalam mengenali isu lingkungan, terutama di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Topik mengenai TNBBS sebenarnya dapat dibuat menjadi tulisan menarik yang mendalam dan penuh analisis (news analysis).

Hendry menuturkan AJI Bandar Lampung bersama dengan Program BESTARI (Pelestarian Habitat Prioritas di TNBBS) mengadakan pelatihan dan telah memfasilitasi jurnalis dalam tiga kali kesempatan untuk melakukan peliputan di TNBBS. Selanjutnya, untuk mengapresiasi dan mendorong jurnalis menghasilkan liputan berkualitas, program akan memberikan hadiah kepada jurnalis dengan liputan terbaik mengenai TNBBS selama tahun 2019.

David Purmiasa, Koordinator Program BESTARI menuturkan kopi merupakan komoditas utama di Lampung. Menurut Kementerian Pertanian, Lampung adalah penghasil kopi robusta terbesar ke dua setelah Sumatera Selatan dengan produksi mencapai 106,716 ton untuk jenis robusta melalui sistem perkebunan rakyat. Tidak heran hal ini menarik masyarakat untuk membuka lahan dan menanam kopi. Namun, dalam praktiknya, sangat disayangkan bahwa banyak para petani kopi yang menggunakan tanah konservasi sebagai lahan tanam kopi.

David menilai produksi kopi petani masih rendah. Misalnya studi kasus di desa yang berbatasan dengan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan menunjukkan bahwa satu hektare kebun kopi baru hanya menghasilkan 600 kilogram per tahun.

Dengan harga asalan kopi di tingkat petani sebesar Rp16.000 hingga Rp19.000 per kilogram, maka satu keluarga hanya akan menghasilkan pendapatan kurang dari Rp12 juta per tahun. Demi mendapat penghasilan lebih, masyarakat memilih untuk membuka dan menggarap lahan di kawasan hutan konservasi. Pembukaan tutupan hutan ini, tentu akan berpengaruh terhadap fungsi dari lahan konservasi itu sendiri.

Di kawasan Lampung Barat, perkebunan masyarakat tidak hanya berada di kawasan tanah marga, tetapi juga di kawasan hutan negara. Seluas sekitar 21.900 hektar kawasan taman nasional yang berada di wilayah administrasi Lampung Barat digarap menjadi lahan perkebunan oleh masyarakat. Kondisi ini juga terjadi di kawasan hutan
lindung, dimana sekitar 57% dari 39.000 hektar yang diolah menjadi perkebunan.

Selanjutnya, pengurangan tutupan hutan menjadi salah satu faktor yang mendorong pemanasan global, yaitu meningkatnya suhu di permukaan bumi. Peningkatan suhu ini akan berdampak pada produktivitas dan kualitas tanaman kopi. Misalnya pada kopi robusta, ia dapat tumbuh dengan optimal di suhu udara sekitar 22-26 derajat celcius. Adanya peningkatan suhu bumi tentunya mempengaruhi areal yang dapat ditanami kopi robusta secara optimal.

Selain itu, peningkatan suhu juga menyebabkan hama musuh kopi yang biasanya hanya mampu hidup pada ketinggian 800 Meter di atas permukaan laut (Mdpl) kini bisa bertahan pada ketinggian 1.200 Mdpl. Untuk mengurangi dampak pemanasan global, ada beberapa cara yang dapat dilakukan.

Yang pertama adalah dengan tidak membuka hutan di kawasan konservasi, sehingga hutan tetap dapat berperan sebagai penyerap karbon. Selain itu, petani masih dapat meningkatkan produktivitas kebun kopinya melalui praktik tanam berbasis mitigasi dan adaptasi iklim, misalnya dengan pertanian kopi agroforestri.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program BESTARI, yang bertujuan untuk melestarikan Habitat Prioritas di Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (Conserving priority habitats in Bukit Barisan Selatan National Park, Sumatra). Program BESTARI merupakan kerjasama antara Wildlife Conservation Society (WCS), WWF Indonesia, Yayasan Badak Indonesia (YABI), dan Balai Besar TNBBS.

Program ini didukung oleh Kementerian Federal Negara Jerman untuk Lingkungan, Konservasi Alam dan Keamanan Nuklir (BMU) dalam kerangka International Climate Initiative melalui KfW-Bank Pembangunan Pemerintah Jerman.

Talkshow Kopi, Hutan dan Iklim, terbuka bagi jurnalis, freelancer, jurnalis kampus, fotografer maupun blogger. Untuk mengikuti Talkshow Kopi, Hutan dan Iklim, calon peserta bisa mengisi form di bit.ly/talkshow11.

Talkshow akan berlangsung pada Minggu, 15 Desember 2019 di Hotel Whiz Prime Jalan Ahmad Yani No.21 Bandar Lampung.

Check Also

Koramil 422-07 Gotong-royong Bersama Warga

Lambar, Media-merdeka.com–Anggota Koramil 422-07/Sumberjaya bersama masyarakat setempat melaksanakan karya bhakti membersihkan kiri dan kanan jalan …

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *